Minggu, 03 Maret 2013

Agus mustofa


PENYIMPANGAN AGAMA OLEH AGUS MUSTOFA I

Penciptaan Adam (Kritisi terhadap buku Ust. Agus Mustofa, Ternyata Akhirat Tidak Kekal)

Menarik sekali membaca buku “Ternyata Akhirat Tidak Kekal” Karya Ust. Agus Mustofa
Pun demikian ada beberapa hal yang perlu dikritisi terkait pemikiran beliau
Posting ini saya rekam kembali dari pendapat saya di blog salah seorang al akh kita, bukan bermaksud untuk copy paste, namun merekam pendapat yang menurut saya penting.
PERTAMA.
Menurut saya, Agus Mustofa dalam bukunya “Ternyata akhirat tidak kekal” agak memaksakan tafsir terutama pada Surat Al A’raf :189 :
“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami teramasuk orang-orang yang bersyukur”. (Al A’raf :189)
“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu…
Kalau kata ‘kamu’ yang dimaksud pada ayat ini adalah nabi adam as, maka bisa jadi penafsiran bahwa Adam dan Hawa dilahirkan dari rahim yang sama (diri yang satu) adalah benar. (hLmN 24, Ternyata Akhirat Tidak Kekal, Agus Mustofa)
Namun coba telusuri kembali ayat sebelumnya 188 :
Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. dan sekiranya Aku mengetahui yang ghaib, tentulah Aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan Aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (Al A’raf :188)
Jelas sekali bahwa yang diajak berbicara (kata ‘kamu’ pada ayat 189) adalah Nabi Muhammad SAW, bukan nabi Adam as.
Sehingga makana ‘Diri yang satu’ adalah Nabi Adam, bukan rahim makhluk lain seperti digambarkan Ust.Agus Mustofa.
“…dan dari padanya Dia menciptakan istrinya..”
dari padanya ini jelas sekali insya Allah maksudnya “dari nabi adam” Dia menciptakan istrinya. sehingga Siti Hawa memang benar-benar diciptakan dari Nabi Adam as. wallahu ‘alam bagaimana caranya.
KEDUA
Apakah syurga yang dimaksud sebagai tempat tiggal Adam dan Hawa adalah dibumi juga seperti yang digambarkan Ust Agus Mustofa.
Mari kita review kembali QS. Al A’raf 11-25:
11. Sesungguhnya kami Telah menciptakan kamu (Adam), lalu kami bentuk tubuhmu, Kemudian kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, Maka merekapun bersujud kecuali iblis. dia tidak termasuk mereka yang bersujud.
12. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” menjawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.
13. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; Karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.
14. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”.
15. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”
16. Iblis menjawab: “Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,
17. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).
18. Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya”.
19. (dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.”
20. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”.
21. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”,
22. Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. tatkala keduanya Telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku Telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”
23. Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.
24. Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang Telah ditentukan”.
25. Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (QS. Al A’raf 11-25)
Dialog yang terjadi pada ayat-ayat diatas, sebagaimana dalam kaidah tafsir : apabila tiada penjelasan pada ayat lain yang berbeda, maka kita harus meyakini dialog tersebut terjadi apa adanya seperti dikisahkan Al Qur’an. (Ayat yang mirip pada Al Hijr :26-44).
Artinya telah benar-benar terjadi dialog antara Allah, Malaikat, Iblis dan Adam. Dialog seperti ini hampir mustahil terjadi di bumi atau alam nyata. Dikisahkan dialog tersebut terjadi di Syurga (lihat ayat 13), yang tentunya termasuk alam ghaib (terlepas dari definisi ghaibmu dan ghaibku ala ust. Agus Mustofa).
Lihat ayat 19 – 25
Allah dengan sangat tegas membedakan bahasa Syurga (Jannah) dan bumi (Al Ard)
Ust. Agus Mustofa menafsirkan ayat tidak komprehensif, melainkan sepotong-sepotong.
Seperti pada ayat 25 (QS Al A’raf):
“Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.”
Beliau menafsirkan bahwa kata ‘kamu’ atau Adam as pada ayat tersebut hidup, mati dan dibangkitkan kembali di bumi. sehingga Syurga yang dimaksud sebagai tempat tinggal adam as pertama kali adalah dibumi juga (halaman 12. Ternyata Akhirat Tidak Kekal).
Namun barangkali beliau lupa, bahwa Allah SWT mengatakan demikian pada Adam as setelah Adam diturunkan dari syurga, bukan saat adam masih berada di syurga. (lihat ayat 19 – 25)
KETIGA
Penafsiran Ust. Agus Mustofa terhadap ayat QS Al Baqarah : 30 :
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
(hlmn 16-17, Ternyata Akhirat Tidak Kekal) Agus Mustofa menyatakan sependapat dengan Prof. A. Baiquni bahwa malaikat mengetahui bahwa khalifah itu akan membuat kerusakan karena memang sebelumnya sudah ada yang seperti manusia (hanya mirip).
Barangkali Ust. Agus Mustofa tidak mempertimbangkan bahwa seluruh kejadian alam semesta sudah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfudz. Kitab ini tentu saja gaib bagi manusia namun belum tentu segaib malaikat seperti yang dijelaskan Ust. Agus Mustofa sendiri bahwa keghaiban itu relatif.
Jangankan malaikat, Jin saja kadangkala mampu mendapat informasi tentang masa depan.
Lihat QS. Al Jin: 8-9:
“Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).”
Juga perhatikan Hadits dari Shahih Bukhari :
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila Alloh menetapkan perintah di atas langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena patuh akan firman-Nya, seakan-akan firman (yang didengar) itu seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata, hal itu memekakkan mereka (sehingga mereka jatuh pingsan karena ketakutan). Maka apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata: “Apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?”Mereka menjawab: “(Perkataan) yang benar. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Ketika itulah, (syaitan-syaitan) penyadap berita (wahyu) mendengarnya. Keadaan penyadap berita itu seperti ini: sebagian mereka di atas sebagian yang lain -digambarkan Sufyan dengan telapak tangannya, dengan direnggangkan dan dibuka jari-jemarinya– maka ketika penyadap berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, disampaikanlah kepada yang di bawahnya, kemudian disampaikan lagi kepada yang ada di bawahnya, dan demikian seterusnya hingga disampaikan ke mulut tukang sihir atau tukang ramal. Akan tetapi kadangkala syaitan penyadap berita itu terkena syihab (panah api) sebelum sempat menyampaikan kalimat (firman) tersebut, dan kadang kala sudah sempat menyampaikannya sebelum terkena syihab; dengan satu kalimat yang didengarnya itulah, tukang sihir atau tukang ramal melakukan seratus macam kebohongan. Mereka (yang mendatangi tukang sihir atau tukang ramal) mengatakan: “Bukankah dia telah memberitahu kita bahwa pada hari anu akan terjadi anu (dan itu terjadi benar)”, sehingga dipercayalah tukang sihir atau tukang ramal tersebut karena satu kalimat yang telah didengar dari Iangit. (HR. Al Bukhori).
Sehingga amat masuk akal bahwa Malaikat yang lebih taat pada Allah 100% mengetahui sebagian berita2 ghaib tentang masa depan dari Allah SWT sendiri. Sehingga pertanyaan Malaikat tentang :
“Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,…”
Bukan karena kejadian perusakan dimaksud malaikat pernah terjadi, namun lebih pada Malaikat mengetahui beberapa kejadian tentang manusia di masa yang akan datang. Mengapa Malaikat mengetahui beberapa kejadian di masa yang akan datang?
tentu saja karena tugas2 malaikat terhadap manusia mulai dari mencatat perbuatan hingga meniup sangkakala yang memungkinkan Malaikat sudah mendapat S.O.P nya dari Allah swt.
Terlepas dari itu semua, Ust. Agus Mustofa merupakan ulama dan ilmuan cerdas yang buku-bukunya sangat menarik untuk dibaca, namun juga tidak berarti lepas dari kesalahan.
Wallahu ‘Alam bish showab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar